• Badik
    Badik

Arti Simbolik Senjata

Tulisan ini masih berhubungan dengan Buku Senjata Tradisional Lampung.

 

Berdasarkan informasi yang diperoleh di antara senjata tradisional lampung (keris, pedang, tombak, badik dans ebagainya,) mempunyai arti tersendiri. Hal ini ternyata dilatarbelakangi oleh perjalanan sejarah yang panjang serta nilai-nilai budaya yang telah dimilki secara turun temurun.

Sebagai contoh misalnya, cerita asal usul pendiri marga melinting di labuhan Meringgai yaitu minak kejala Ratu dan Minak Kejala Bidin. Sewaktu mereka pergi ke Banten, ooleh sultan banten diberi tiga bilah keris, masing-masing bernama:

1. Keris Kealmbisari

2. Keris Ahulawet (dari karang laut)

3. Keris Cambei Secandik (dari pucuk sirih)

dibaritahukan bahwa 3 keris tersebut adalah keris yang sangat bertuah, dan wujud dari pemberian keris adalah sebagai pengakuan Sultan terhadap kedua orang tadi, secara resmi bahwa sultan Banten yakin bahwa orag itu tidak lain sebagai anaknya.

 

Dari Berbagai pengamatan yang masih berklaku pada masyarakat suku bangsa Lampung, dapat kita lihat pada acara penyelesaian perdamaian sebaga akibat kawin lari (sebambangan Lampung). Setelah gadis yang dilarikan berada dalam pengawasan kepala adat bujang maka kepala adat diwajibkan mengantar pemberitahuan kepada kepa adat gadis. Pemberitahua itu disebut pengundur snjataou (perletakan senjata, yait maksudnya utusan dari kepala adat pria yang telah melarikan gadis datang menghadap epada kepala adat pihak gadis yang kehilangan gadis mereka dab menyampaikan sebilah keris terapanag, yaitu keris adat yang berukuran besar dengan sarung terbuat dari kuningan atau perak berukir. Di beberapa tempat daerah lampung ada juga yang menyerahkan senjata bukan keris akan tetapi berupa tombak.

 

Penyampaian permintaan maaf, mengakui kesalahan atas perbuatan merreka yang lancang dan mohon penyelesaian yang baik dan damai sehingga gadis dan bujang yang ebrsangkutan dapat melangsungkan perkawinan. Setelah pengunduran senjata tersebut selesai diterima pihak pemuka adat gadis, maka ia berkewajiban memberitahukan keada orang tua gadis dan anggota kerabat yang lain atas kejadian yang memanaskan hati mereka itu. Pada umunya orang tua gadis akan menyerahkan penyelesaian masalahnya kepada kepala adatnya dan kepala adat itu akan membuka perundingan damai dengan pihak kepala adat bujang.