Filosofi Golok Ciomas

Jika Shakespeare mengatakan “Apalah arti sebuah nama”, maka Nabi Muhammad Saw pernah berkata bahwa “Nama adalah doa.” Nama yang tersemat melambangkan atau setidaknya mencitrakan si pemilik nama. Begitu pula dengan Golok Ciomas. Melalui penciptanya, maka golok-golok tersebut diberikan sebuah nama. Tentu bukan sekadar nama, melainkan nama yang mengandung nilai filosofi yang tinggi.

 

“Nama golok, setahu saya, diperuntukkan bagi dua bagian golok yakni gagang dan wilah (besi golok). Untuk gagang, ada Jengkol Sapasi, Babalingbingan yang menjadi bentuk baku dalam gagang golok. Kemudian dalam pengembangannya, gagang tersebut memiliki nama wawayangan, mamanukan, ular cobra, dan lain-lain sesuai dengan pesanan calon pemilik golok. Smeentara untuk wilah sendiri ada beberapa nama seperti Salam Nunggal, Kembang Kacang, Candung, Malapah Gedang, Mamancungan, dan sebagainya,” kata Oman Solihin.

 

Di masyarakat, selain golok, kita juga mengenal kata bedog. Meskipun kedua benda ini merujuk pada benda yang sama, namun di dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian (1518), golok adalah nama senjata bagi seorang raja. Sedangkan kata bedog tidak ditemukan di dalam naskah Sunda kuno tersebut. Kata bedog ditemukan di dalam kamus bahasa Sunda-Inggris karya Jonathan Rigg (1862) yang diartikan sebagai sebuah alat untuk memotong dan menetak. Menurut Mamat Sasmita, pegiat Rumah Baca Buku Sunda, barangkali telah terjadi desakralisasi fungsi golok yang tadinya sebagai alat perang raja, menjadi bedog sebagai alat praktis di kalangan rakyat jelata. Pemilik atau pembuat golok seringkali menyematkan nama pada golok. Nama-nama yang disematkan bukan hanya nama semata, melainkan memiliki makna simbolik di balik nama tersebut. Salah satunya ada jenis golok yang dinamai Salam Nunggal. Bentuk golok ini yakni berpunggung lurus dengan bagian tajamnya yang juga lurus. Tetapi di ujung golok melengkung menyerupai seperempat bulatan dari bagian yang tajam ke bagian tumpul. Nama ini, bisa dilacak dalam Wawacan Gagak Lumayung karya M. O. Suratman (1956). Pada baris ke-240 tertulis, “Sampurna Iman Islam, jaga ieu kubur janten lembur rame pisan, mugi-mugi sing tepi paneda kami, nelahna Salam Nunggal.” Di dalam bahasa Sunda, kata “Salam” bisa diartiken sebagai nama pohon yang daunnya digunakan sebagai penambah aroma pada masakan, sedangkan arti lainnya yaitu doa untuk keselamatan. Sementara kata “Nunggal” memiliki kata dasar “Tunggal”. Jadi, makna nama Salam Nunggal pada sebuah golok kurang lebih, walau pun kita memiliki golok, namun keselamatan adalah milik Sang Maha Tunggal, Allah Swt. Maka dalam penggunaannya, golok mestilah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Sang Maha Tunggal (Mamat Sasmita, 2008). Selain Salam Nunggal, ada juga golok yang memilliki nama Paut Nyere. Golok ini memiliki bentuk lurus, panjang, dan ramping. Paut Nyere dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti mencabut lidi. Nama ini memiliki symbol seperti halnya lidi yang terpasang pada seikat sapu. Jika lidi sering dicabut dari ikatannya, maka ikatan tersebut tidak akan kuat lagi. Ikatan sapu tersebut akan menjadi longgar bahkan terancam terburai. Maka, terlalu sering mencabut golok dari sarangka-nya dalam menghadapi masalah menunjukkan betapa lemahnya penguasaan diri (Mamat Sasmita, 2008).

 

Ada juga golok yang di Ciomas disebut dengan nama Candung. Golok Ujung Turun atau Lubuk. Dinamai Ujung Turun karena golok ini memiliki bentuk punggung lurus dengan bagian tajam yang juga lurus. Lalu di ujung golok ini, dari bagian yang tumpul melengkung seperempat lingkaran ke bagian yang tajam (kebalikan dari Salam Nunggal). Nama dan bentuk golok yang mengecil ke bagian ujung golok ini memiliki symbol bahwa semakin ke ujung kehidupan atau semakin tua usia, mestilah semakin bijaksana. Ujung golok yang melengkung seperempat lingkaran dari bagian punggung ke bagian yang tajam hampir sama dengan makna ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk (Mamat Sasmita, 2008)

 

di Ambil dari Harian Pikiran Rakyat (Khazanah, Lembar Khusus Budaya Edisi 1 April 2012) Oleh Fatih Zam