Golok Ciomas & Budayanya

 


Angkot berwarna merah sudah menunggu ketika saya dan dua orang kawan turun di Palima, Serang, dari bus jurusan Labuan-Jakarta. Dari kawasan dekat KP3B (Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten) ini, di siang yang begitu terik ditambah hawa Serang yang sangat panas, Rabu (28/3), kami naik angkot menuju desa Pondokkahuru. Kurang lebih satu jam, sampailah kami di sebuah perkampungan dengan rumah berjejer rapi. Di antara rumah yang sudah dibangun dengan konstruk modern, beberapa di antaranya masih ada rumah kayu dengan bilik anyaman bambu dan atap daun rumbia.

Namun, segera saja rasa heran menyergap saya. Sebelumnya, di kepala saya sudah bersarang anggapan bahwa kampung yang menjadi sentra kerajinan golok ini akan ramai dengan suara-suara yang ditimbulkan dari pembuatan golok. Nyatanya, suasana kampung begitu biasa layaknya kampung lain. Keheranan saya segera terobati ketika mendapat keterangan dari warga setempat bahwa kedatangan saya dan teman-teman ke desa Pondokkahuru ini terlambat. Karena proses pembuatan golok Ciomas sudah dilakukan pada bulan Mulud yang lalu. Golok Ciomas sendiri rupanya hanya dibuat setahun sekali, yakni pada tiap bulan Mulud (bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad Saw.).

“Golok Ciomas hanya dibuat pas momen bulan maulid. Ini sudah tradisi yang diwariskan secara turun temurun, demi menjaga kelestarian kearifan lokal,” kata Oman Solihin, penulis buku Golok Ciomas yang juga warga Pondokkahuru serta pelestari Golok Ciomas. Pembuatan golok Ciomas yang dilakukan setiap bulan maulid adalah sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah membawa ajaran Islam.

Sebelum proses produksi dilakukan, ada sejumlah ritual yang mesti dilakukan. Ritual tersebut dilakukan selama 12 hari. Dimulai dari tanggal 1 Maulid sampai tanggal 12 Maulid di mana proses pembuatan dilakukan.

“Inilah yang membedakan golok Ciomas dengan golok yang lainnya. Proses ritual pembuatan golok dimulai sejak tanggal 1 Maulid, yaitu ritual penyambutan bulan maulid. Dilanjutkan dengan ritual pengambilan air sepuh yang diambil dari tujuh sampai sembilan mata air yang berada di wilayah sekitar Desa Pondokkahuru,” ungkap Oman.

Nah, pada 12 Maulidlah proses penempaan golok Ciomas dilakukan. Golok Ciomas ditempa oleh bukan sembarang godam. Tetapi menggunakan Godam Ki Denok. Diyakini, godam Ki Denok merupakan warisan dari Ki Cenguk, leluhur pertama yang membuat Golok Ciomas pada masa kerajaan Islam Banten. Ki Denok dipercaya merupakan hadiah dari Sultan Banten yang sudah berusia ratusan tahun. Golok Ciomas dibuat di tempat pandai Ki Sidik Santani, di kampung Cibopong, desa Citaman. Sebuah kampung pemekaran dari desa Pondokkahuru. Ki Sidik adalah pande golok Ciomas yang gigih mempertahankan tradisi pembuatan Golok Ciomas.

Tentu saja, karena proses pembuatan golok Ciomas ini tidak sembarangan dan harus melalui ritual yang lumayan panjang, maka golok Ciomas oleh sebagian orang dipercaya sebagai golok yang “berisi”. Beberapa yang memesan golok Ciomas menjadikan golok Ciomas bukan hanya sebagai hiasan atau cinderamata saja. Melainkan menjadikannya semacam jimat. Namun, Oman Solihin mengaku tidak memiliki cukup pengetahuan tentang Golok Ciomas yang dijadikan jimat.

“Biasanya sering ada cerita yang berbeda-beda dari para pemegang Golok Ciomas,” ujar Oman.
Cerita-cerita yang diungkapkan Oman misalnya bisa terlacak dari pernyataan yang lazim di masyarakat, “Lain golok sembarang golok, ieu mah golok Ciomas.” (Bukan golok sembarang golok, ini Golok Ciomas). Banyak yang percaya bahwa Golok Ciomas memiliki aroma magis. Golok Ciomas banyak yang mengamini mampu “menaklukan” musuh. Akan tetapi, arti “menaklukan” di sini bukanlah secara fisik. Melainkan melalui cara-cara tak kasat mata, bahkan tanpa golok harus tercabut dari sarangka-nya. Kedatangan orang yang memiliki Golok Ciomas ke tengah-tengah perselisihan, dipercaya bisa meredakan perselisihan tersebut. Bahkan, ada sebuah gurauan tentang keistimewaan Golok Ciomas, “Nu rek nagih hutang ge kalah ka teu jadi.” (yang mau menagih utang saja bisa tidak jadi).

“Karena dalam proses pembuatan Golok Ciomas melalui tahapan-tahapan ritual, saya melihat kemungkinan besar ada unsur-unsur magis di dalamnya. Akan tetapi, sebagai penulis dan penggali kearifan budaya Golok Ciomas, saya berharap hal ini tidak mendangkalkan akidah. Akan lebih baik jika kearifan budaya Golok Ciomas ini dapat menjadi sarana meningkatkan keyakinan kita kepada Allah Maha Pencipta,” tutur Oman.

Setiap tahunnya, sejumlah golok diproduksi sesuai dengan pesanan. Jadi, dalam pembuatan Golok Ciomas ini tidak dilakukan secara massal kemudian didistribusikan ke pasaran. Melainkan hanya dibuat untuk pemesan saja.

“Jumlah Golok Ciomas dalam sekali produksi paling banyak 50 buah, atau sesuai pesanan calon pemilik Golok Ciomas. Selain itu, Golok Ciomas juga diberikan sebagai cinderamata kepada para tokoh yang dikehendaki.”

Golok Ciomas, seperti yang dipaparkan Oman Solihin, merupakan sisa-sisa kejayaan masa silam yang masih terjaga hingga kini. Sebagai senjata, di daera Banten, golok memiliki fungsi yang sangat penting. Di zaman penjajahan, golok adalah senjata penting yang digunakan para pejuang.

Golok Ciomas mencapai popularitas karena kelebihannya menyebar melalui informasi mulut ke mulut. Ada yang mengatakan Golok Ciomas memiliki ketajaman yang luar biasa. Golok Ciomas juga dianggap sebagai hasil karya seorang empu, seorang “ahli metalurgi” autodidak yang mumpuni. Golok Ciomas sangat tajam sehingga tersentuh saja bisa berakibat fatal.

“Secara bentuk, Golok Ciomas sebenarnya memiliki kesamaan dengan golok lain. Namun demikian, dari sisi pembuatan dan bahan baku sangat berbeda,” kata Oman yang juga mengatakan bahwa bagi masyarakat Ciomas khususnya, dan bagi orang Banten pada umumnya, golok Ciomas merupakan symbol jati diri yang bisa menumbuhkan kepercayaan diri serta rasa bangga ketika memiliki golok Ciomas tersebut.



di Ambil dari Harian Pikiran Rakyat (Khazanah, Lembar Khusus Budaya Edisi 1 April 2012) Oleh Fatih Zam